4 Mitos Menarik Seputar Kawasan Wisata Candi Borobudur

Mitos Menarik Seputar Kawasan Wisata Candi Borobudur

Kelebihan dari destinasi wisata super prioritas yang merupakan program dari adalah tiap daerah memiliki storynomics tourism yang berbeda-beda. Wisata Candi Borobudur, sebagai salah satu dari destinasi wisata tersebut juga memiliki cerita menarik seputar keberadaannya.

Hal ini membuat para wisatawan yang datang berkunjung nggak cuma datang untuk melihat peninggalan sejarah yang menakjubkan, tapi juga untuk membuktikan kebenaran cerita yang beredar.

Cerita-cerita ini sudah dihidupi ratusan tahun lamanya. Bagi mereka yang percaya, cerita tersebut nggak cuma sekedar mitos aja, tetapi sudah jadi bagian dari Candi Borobudur.

Mitos Seputar Tempat Wisata Candi Borobudur

Ada setidaknya 4 mitos yang kerap dipercaya oleh sebagian besar masyarakat dan pengunjung candi ini. Walau terasa tidak mungkin, namun bagi mereka yang percaya dan pernah mengalaminya, mitos tersebut dapat menjadi kenyataan.

  • Kunto Bimo

Salah satu mitos yang terkenal adalah Kunto Bimo. Mitos ini mengatakan bahwa siapapun yang mampu menyentuh patung yang berada di dalam stupa, maka keinginannya akan dikabulkan. Namun nggak semua patung di dalam stupa yang bisa menjadi pengabul impian.

Hanya patung Buddha yang sedang dalam posisi Dharmachakra yang dianggap sebagai pembawa keberuntungan tersebut. Stupa yang melindungi patung ini berada di bangunan bagian dasar terhitung dari 3 undak stupa. Bentuk lubang yang ada di stupa ini menyerupai belah ketupat.

Bagian patung yang harus disentuh pun juga berbeda untuk lelaki dan perempuan. Bagi para lelaki, harus menyentuh bagian kelingking atau jari manis Buddha. Sedangkan untuk perempuan, bagian jari kaki adalah bagian yang harus disentuh kalau ingin keinginannya terkabul.

Tapi agaknya mitos tersebut sudah nggak bisa dilakukan lagi. Pasalnya, untuk bisa menyentuh bagian patung maka orang yang ingin dikabulkan harapannya harus menginjak bagian luar stupa. Hal ini udah dilarang demi menjaga kelestarian candi.

Baca Juga : https://www.kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata

  • Singa Urung

Mitos yang satu ini merupakan kebalikan dari mitos Kunto Bimo. Jika Kunto Bimo membawa keberuntungan, maka Singa Urung akan mendatangkan kemalangan. Bagi pengunjung yang paham, mereka nggak bakalan menyentuh arca berbentuk singa yang terletak di tangga masuk candi.

Arca singa ini ada dua buah yaitu di bagian kanan dan kiri tangga masuk. Hal ini dikarenakan mitos yang mengatakan bahwa siapapun yang bersentuhan dengan arca singa ini, maka dia akan mengalami ketidakberuntungan.

Pasalnya Singa Urung sendiri adalah sebutan bagi arca singa gagal. Entah kenapa arca singa ini disebut gagal. Yang jelas, mitos ini belum banyak yang memahaminya. Hal ini terlihat dari masih banyak wisatawan yang menyentuh arca ini dengan rela karena posisinya yang strategis sebagai properti untuk foto.

  • Pencipta Borobudur

Pertanyaan tentang siapa yang membangun Candi Borobudur masih sering menjadi perdebatan. Salah satu pernyataan mengungkapkan kalau pendiri candi megah ini bernama Gunadarma yang adalah tokoh intelektual di masa itu.

Dialah yang berjasa menetapkan desain dari Candi Borobudur. Selain tokoh intelektual, Gunadarma juga memiliki kesaktian. Pada akhir hidupnya, dia memilih menjadi penjaga bagi candi yang masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia tersebut. Gunadarma menjelma menjadi Gunung Menoreh yang terletak tidak jauh dari candi.

Kalau dilihat dari jauh memang bentuk dari gunung ini hampir mirip dengan seseorang yang sedang berbaring sambil mengarahkan pandangan ke Candi Borobudur. Sampai sekarang, masih banyak masyarakat setempat yang percaya akan mitos satu ini.

  • Jam Raksasa

Pada masanya, candi satu ini dipercaya bukan hanya sebagai tempat beribadah tetapi juga sebagai jam raksasa. Hal ini bisa dilihat dari relief candi yang memiliki gambar benda-benda langit. Selain itu, posisi candi memang simetris dan pembangunannya mengikuti arah terbit dan tenggelam matahari.

Nggak cuma itu, keberadaan stupa utama yang ada di tengah kawasan candi juga dipercaya sebagai poros utama yang berfungsi sebagai jarum jam. Sedangkan angka-angka yang menunjukkan waktu diwakili oleh stupa kecil di sekeliling stupa utama.

Semua mitos di tempat wisata Candi Borobudur tercipta karena banyak faktor. Hal ini yang membuat candi Buddha terbesar di dunia ini tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi relief Candi Borobudur juga menyimpan catatan sejarah yang belum sepenuhnya rampung diterjemahkan.